Puas Makan Setelah Berpuasa

Penulis : Nabila Irhami

Sumber : Canva

Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu termasuk aku, banyak hal yang memorize. Aku mudik ke kota Garut dengan menaiki mobil pribadi, saat puasa disana aku dan saudaraku punya cara asyik untuk ngabuburit.

Di Garut aku selalu bermain bersama saudara-saudaraku yang bernama Qonita yang seumuran denganku, Emil, Damar adiknya Qonita, dan Ilma adikku. Biasanya kita bermain di rumah Emil, aku dan saudaraku sering main boneka-bonekaan, menyusun cup kopi menjadi menara atau tembok cina, perang-perangan, bermain peran, camping-campingan, berenang, main Minecraft, jalan-jalan ke sawah sambil beli takjil, atau bahkan menonton TV. Aku dan Qonita menjadi tim untuk melawan tim Emil dan Damar berperang memakai bantal sofa, kami saling beradu dan mempertahankan bantal yang ada di benteng masing-masing agar tidak dicuri. Sementara adikku Ilma dia netral jadi diam saja, terkadang ada saja yang menangis karena tak sengaja terpukul bantal seketika kami menghentikan permainan. Sama seperti tim sebelumnya namun kami berperan menjadi ratu atau pemimpin sebuah kerajaan, sedangkan Emil menjadi musuh kami dan Damar menjadi penasehat atau assistennya. Adikku hanya menjadi pembantu kami, kami bermain peran layaknya kerajaan sungguhan.

Kadang-kadang kita membantu Emak di warung, kami memanggil nenek dengan Emak. Mengisi bungkus plastik kecil dengan tepung terigu atau gula pasir sampai-sampai bermain bahkan mengenai baju, menyusun barang jualan yang terkadang disusun menjadi bangunan, dan membantu Emak mengambilkan barang jualan yang berada di tempat berbeda. Aku masih ingat ketika menggeledah kasir Emak, disana rupanya ada uang-uang tahun 1900 an. Karena sudah tidak bisa dipakai untuk alat jual beli, Emak memberikan uang logam tersebut kepada kami. Ada berbagai macam jenis, ukiran uang, sampai nominal koin receh yang berbeda, agar adil Aku dan Qonita membagi dua uang logam tersebut. Aku suka benda-benda unik dan kecil seperti uang kuno untuk dikoleksi. Selain diwarung kami juga sebelum lebaran selalu membuat kue kering, Aku dan saudaraku yang lain membantu Mamahnya Emil atau aku panggil Uwa. Mulai dari membuat kue coklat berisi remahan biskuit bubuk sampai kue berbentuk anjing.

Pada malam takbiran langit dipenuhi petasan dan takbir dari berbagai mesjid, aku dan saudaraku bermain kembang api ada juga yang petasan. Keesokanya kami sekeluarga pergi ke masjid untuk sholat ied, saling bermaaf-maafan. Mengunjungi kerabat, makan bersama, dan tidak lupa angpau hehe. Terakhir ziarah ke kuburan sebelum akhirnya mudik ke Tasikmalaya, keluarga Bapakku.

Bagikan artikel ini :

LinkLink