Harta Kekayaan Bukanlah Segalanya

Penulis : Sam Edy Yuswanto

Sumber : pixabay.com

Harta kekayaan bukanlah segala-galanya. Bukan pula menjadi satu-satunya penentu kebahagiaan seseorang. Memang benar, harta kekayaan, uang misalnya, merupakan salah satu sarana kebahagiaan bagi kita. Tapi bukan menjadi satu-satunya sarana, sebab masih banyak sarana kebahagiaan yang bukan berupa harta benda. Misalnya, teman dan sahabat yang baik.

Ya, teman atau sahabat yang baik adalah termasuk harta berharga yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Mustahil rasanya bila ada orang yang bisa hidup bahagia hanya dengan bermodalkan harta kekayaannya saja, tanpa memiliki teman-teman dan sahabat-sahabat yang baik. Bukankah manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian? Artinya, antara manusia yang satu dengan yang lainnya pasti sangat membutuhkan dan seyogianya saling membantu.

Kisah dalam novel anak ini semoga bisa dijadikan sebagai pelajaran penting bagi anak-anak di rumah agar jangan pernah menyombongkan diri dengan harta benda atau kekayaan yang dimiliki oleh kedua orangtua. Jangan sampai dalam berteman, kita hanya memilih teman-teman yang kaya raya saja, sementara dengan teman-teman yang miskin kita enggan berteman bahkan cenderung menjauhinya.

Dikisahkan, Evelyne, adalah bocah perempuan yang kaya raya. Namun sayangnya dalam pergaulannya di sekolah, ia hanya mencari teman-teman yang selevel dengannya. Alias hanya mau berteman dengan yang kaya raya saja. Tak hanya itu, Evelyne juga dikenal sebagai anak yang sangat manja, nakal, suka menyontek, dan gemar berbuat ulah di sekolahnya (halaman 14).

Zahra adalah salah satu teman yang sering diganggu oleh Evelyne. Kebetulan mereka berdua duduk sebangku di sekolah. Bagi Zahra, Evelyne adalah orang yang sangat menyebalkan. Sebenarnya dulu Zahra dan kedua sahabatnya (Alike dan Manda) ingin berteman dengan Evelyne, tapi sayangnya Evelyne selalu menjauh dan hanya mau berteman dengan anak perempuan yang kaya raya, bukan yang seperti Zahra dan kedua sahabatnya (halaman 45).

Zahra, Alike, dan Manda adalah tiga sahabat yang sering bermain bersama. Mereka bertiga memiliki hobi yang serupa, yakni gemar bertualang atau mencari tempat piknik yang seru dan mengasyikkan. Suatu hari, mereka pergi berkemah di sebuah tempat yang berdekatan dengan hutan. Tak disangka, di hutan tersebut, mereka dipertemukan dengan Syaqilla, gadis kecil yang tengah bersedih karena saudaranya hilang saat sedang berkemah di sekolah. Zahra dan kedua sahabatnya pun berusaha menghibur dan mengajak Syaqilla bermain. Mereka akhirnya bersahabat baik.

Syaqilla adalah gadis yang berasal dari keluarga kaya raya. Ia bahkan sudah pergi keliling dunia diajak oleh ayahnya. Foto-foto saat Syaqilla sedang berada di luar negeri, Amerika dan Korea misalnya, membuat Zahra dan kedua temannya tak dapat menyembunyikan kekagumannya.

Syaqilla pun bercerita bahwa saat liburan ke luar negeri ia menginap di hotel. Ia juga menceritakan tentang beragam musim yang ada di luar negeri. Misalnya, saat musim panas tiba, biasanya siang hari terasa lebih panjang daripada hari-hari biasanya. Kalau musim salju tiba, semua bangunan dan jalanan tertutupi oleh hujan salju. Siang dan malam udaranya terasa sangat dingin. Sementara ketika datang musim gugur, daun-daun pepohonan banyak yang berguguran. Dari semua musim tersebut, Syaqilla mengaku menyukai musim semi. Alasannya, karena bunga-bunga bermekaran lagi. Sehingga pemandangan jadi terlihat sangat indah (halaman 48-49).

Ketika Evelyne mengetahui Zahra, Alike, dan Manda bersahabat dengan Syaqilla, timbul rasa iri di hatinya. Diam-diam, Evelyne ingin menjadi sahabat Syaqilla. Tak hanya itu, sebenarnya jauh di dasar lubuk hati, Evelyne ingin sekali berteman dengan mereka berempat. Apakah Evelyne akhirnya bisa bersahabat dengan mereka? Atau malah menjadi musuh selamanya? Jawabannya tentu hanya bisa dibaca dalam novel ini, novel yang cukup menarik dan juga memuat hikmah yang bisa dipetik sekaligus diteladani oleh anak-anak di rumah.


Bagikan artikel ini :

LinkLink