Sahabat itu Harus Saling Menjaga

Penulis : Yeti Islamawati, S.S

Sumber : pixabay.com

Cerita tentang sahabat, tak henti-hentinya menjadi sumber inspirasi tulisan. Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh Ahliza Zeyn. Ia mengangkat sebuah cerita tentang persahabatan antara Ratih, Rindu, dan Fitri.

Ratih dan Fitri sudah lama bersahabat. Mereka sering melakukan kegiatan bersama, mengerjakan PR, bermain, juga bersepeda bersama. Suatu hari datang anak baru di kelas. Keduanya pun ingin Rindu dapat seperti mereka berdua. Namun, tanggapan Rindu di luar dugaan. Rindu sering kali menolak ajakan mereka berdua. “Rin, kenalkan, namaku Ratih, dan ini temanku, Fitri, apa kamu mau ikut ke kantin?” Atau kali lain, “Rindu, mau pulang sama-sama?’ Ajakannya tak ada yang mempan.

Ratih dan Fitri jadi memikirkan Rindu. Rindu selalu menyendiri, tak mau diajak makan di kantin, atau pulang bersama. Padahal, mereka ingin sekali bersahabat dengan Rindu. “Fit, kok Rindu pendiam gitu sih, kan, harusnya dia senang, dapat kawan baru?” Rindu bertanya pada Fitri yang dijawab bahwa mungkin Rindu masih adaptasi, karena tidak mudah untuknya menyesuaikan diri di sekolah baru (hlm 12).

Suatu hari Ratih secara tak sengaja mendengar Rindu asyik mengobrol dengan petugas perpustakaan. Ratih menemukan hal yang tak terduga, Rindu mau bicara pada orang lain. Rindu ternyata juga jago menulis puisi. Hingga suatu hari mereka berdua bertemu di pelombaan menulis puisi dan sama-sama menjadi juara. Rindu juara pertama, sedangkan Ratih juara kedua. Namun sayang, di akhir acara Rindu pingsan.

Rindu dirawat di rumah sakit sehigga tidak sekolah selama beberapa hari.Ratih selalu kepikiran Rindu. Hingga Fitri sempat melontarkan pertanyaan candaan mengejutkan, yang mau tidak mau mengusik pikirannya. Ra jadi kepikiran mengusiknya. “… Ra, kamu sadar tidak, kalau kamu itu terlalu penasaran tentang Rindu…Mungkin kamu dan Rindu ada hubungannya,” (hlm 28). Rindu menjawab bahwa itu tidak mungkin karea setiap Lebaran, keluarga besar selalu berkumpul dan tidak pernah bertemu sekalipun. Meskipun begitu, Fitri masih bersikeras bahwa pokoknya ada berbagai kemungkinan.

Ketika kembali masuk sekolah, ada yang berbeda dengan Rindu. Ada yang berubah dari diri Rindu. Ia menjadi lebih mulai terbuka kepada Ratih dan Fitri, lalu semakin lama semakin dekat. Kegigihan mereka membawa hasil, akhirnya Rindu mau bersahabat. “Maaf ya, Ra, Fit, aku sering bikin kalian kecewa, aku sering nolak ajakan kalian, padahal cari teman kayak kalian itu susah,” kata Rindu sembari memeluk Ratih dan Fitri (hlm 57).

Buku cerita ini juga menunjukkan kebiasaan yang baik, misalnya saja siang hari, Ratih dan Fitri memastikan semua tugas dan PR telah dikerjakan baru main bersama. Juga kebiasaan orang tua yang patut dicontoh, dari mendampingi anak mengunjungi tetangga baru, sampai wujud perhatian dengan menawarkan sarapan. “Makasihya, Tan, sarapannya. Masakan Tante enak, deh… kapan-kapan juga Ra sarapan di rumah Fitri, ya?” (hlm 55).

Terdapat juga kebiasaan khas anak perempuan, “Aku menatap hiasan kepala yang terdapat di meja rias, di sana terdapat ikat ramput, ada yang berwarna merah muda, biru, dan kuning. Ada juga bando berwarna peach dengan motif polkadot warna putih. Terakhir, terdapat jepit rambut yang berbentuk bintang, berwarna emas, Sepertinya, aku akan pakai jepit saja,” (hlm 20).

Sebenarnya siapakah Rindu itu, apa hubungannya dengan Ratih? Bagaimana dengan akhir kiasah ini mengingat Rindu sering kali masuk rumah sakit? Pembaca akan dibuat penasaran. Jalinan alur yang dituturkan cukup bagus dan menarik. Sebuah cocok dibaca oleh anak-anak karena akan menemukan banyak kebaikan di dalamnya. Setidaknya anak-anak kembali diingatkan bahwa yang namanya sahabat itu harus saling menjaga.


Bagikan artikel ini :

LinkLink